πŸ’¬

Informasi

Berita

Tahapan perkembangan moral adalah ukuran moral seseorang yang didasarkan pada perkembangan penalaran moral, seperti yang dijelaskan oleh Lawrence Kohlberg. Kohlberg menghasilkan tahap-tahap ini ketika ia mempelajari psikologi di University of Chicago dan mengembangkan teorinya setelah terinspirasi dari karya Jean Piaget dan ketertarikannya pada reaksi anak-anak terhadap dilema moral. Pada tahun 1958, dia menulis disertasinya yang menjadi awal dari apa yang sekarang disebut tahapan perkembangan moral Kohlberg.

Menurut teori ini, penalaran moral, yang merupakan dasar perilaku etis, melalui enam tahapan perkembangan yang dapat diidentifikasi. Kohlberg mengikuti perkembangan keputusan moral seiring bertambahnya usia seperti yang diteliti oleh Piaget, yang menunjukkan bahwa logika dan moralitas mengalami perkembangan melalui tahapan konstruktif. Namun, Kohlberg memperluas pandangan dasar ini dengan menentukan bahwa tahapan perkembangan moral pada dasarnya berkaitan dengan keadilan dan terus berlanjut sepanjang hidup, meskipun hal ini memicu pertanyaan filosofis tentang implikasi penelitiannya.

Kohlberg menggunakan cerita-cerita tentang dilema moral dalam penelitiannya dan tertarik pada bagaimana orang dapat membenarkan tindakan mereka ketika mereka berada dalam situasi moral yang sama. Dia kemudian mengkategorikan dan mengklasifikasikan respon yang muncul menjadi enam tahap yang berbeda. Keenam tahap tersebut dibagi menjadi tiga tingkat: pra-konvensional, konvensional, dan pasca-konvensional. Teorinya didasarkan pada tahapan perkembangan konstruktif, di mana setiap tahap memberikan tanggapan yang semakin adekuat terhadap dilema moral dibandingkan dengan tahap sebelumnya.

Baca juga: Bacaan Sholat Tahajud Lengkap

6 Tahap Perkembangan Moral Kohlberg

Tahapan perkembangan moral dari Kohlberg dibagi menjadi tiga tingkatan: pra-konvensional, konvensional, dan pasca-konvensional.

Pra-konvensional

Tingkat pra-konvensional dalam penalaran moral umumnya terjadi pada anak-anak, meskipun orang dewasa juga dapat menunjukkan penalaran yang sama pada tahap ini. Pada tingkat ini, seseorang menilai moralitas dari sebuah tindakan berdasarkan konsekuensi langsung yang dirasakan. Tahap pra-konvensional terdiri dari dua tahap awal dalam perkembangan moral dan cenderung egosentris.

  • Pada tahap pertama, individu fokus pada konsekuensi langsung dari tindakan mereka yang dirasakan secara pribadi. Sebagai contoh, suatu tindakan dianggap salah secara moral bila pelakunya dihukum. Semakin berat hukumannya, semakin salah dianggap tindakan tersebut. Selain itu, individu pada tahap ini tidak menyadari bahwa orang lain mungkin memiliki sudut pandang yang berbeda. Tahap ini bisa dilihat sebagai tipe otoriterisme.
  • Tahap kedua menempatkan keuntungan bagi diri sendiri sebagai faktor penting dalam menentukan perilaku yang benar. Penalaran pada tahap ini kurang memperhatikan kebutuhan orang lain, hanya pada tahap dimana kebutuhan orang lain berdampak pada kebutuhan diri sendiri, seperti "jika kamu menggaruk punggungku, maka aku akan menggaruk punggungmu." Pada tahap ini, perhatian pada orang lain tidak didasarkan pada loyalitas atau faktor intrinsik lainnya. Kurangnya perspektif tentang masyarakat pada tahap pra-konvensional berbeda dengan kontrak sosial (tahap lima) karena semua tindakan dilakukan untuk memenuhi kebutuhan diri sendiri saja. Bagi mereka pada tahap kedua, perspektif tentang dunia dilihat sebagai relatif secara moral.

Baca juga: Moral Adalah: Pengertian, Ciri dan Jenisnya

Tingkat konvensional

Tingkat konvensional biasanya terjadi pada remaja atau orang dewasa. Orang pada tahap ini menilai moralitas dari suatu tindakan dengan membandingkannya dengan pandangan dan harapan masyarakat. Tingkat konvensional terdiri dari tahap ketiga dan keempat dalam perkembangan moral.

  • Dalam tahap ketiga, seseorang masuk ke dalam masyarakat dan memiliki peran sosial. Individu mau menerima persetujuan atau ketidaksetujuan dari orang lain karena itu merefleksikan persetujuan masyarakat terhadap peran yang dimilikinya. Mereka berusaha menjadi seorang anak baik untuk memenuhi harapan tersebut, karena telah mengetahui manfaatnya. Penalaran pada tahap tiga menilai moralitas dari suatu tindakan dengan mengevaluasi konsekuensinya dalam bentuk hubungan interpersonal, yang meliputi rasa hormat, terima kasih, dan prinsip golden rule. Kepatuhan terhadap aturan dan otoritas hadir hanya untuk membantu peran sosial yang telah stereotip. Maksud dari suatu tindakan memiliki peran yang lebih signifikan dalam penalaran di tahap ini; 'mereka bermaksud baik…'.
  • Dalam tahap empat, penting untuk mematuhi hukum, keputusan, dan konvensi sosial karena hal itu berguna dalam memelihara fungsi masyarakat. Penalaran moral pada tahap empat lebih dari sekadar kebutuhan akan penerimaan individu seperti pada tahap tiga; kebutuhan masyarakat harus melebihi kebutuhan pribadi. Idealisme utama sering menentukan apa yang benar dan apa yang salah, seperti dalam kasus fundamentalisme. Jika seseorang melanggar hukum, orang lain mungkin akan melakukannya juga - sehingga ada kewajiban atau tugas untuk mematuhi hukum dan aturan. Jika seseorang melanggar hukum, maka ia salah secara moral, sehingga celaan menjadi faktor yang signifikan dalam tahap ini karena memisahkan yang buruk dari yang baik.

Baca juga: Asimilasi: Pengertian, Faktor Pendorong, Ciri, dan Contoh

Tingkat pasca-konvensional

Tingkat pasca-konvensional, juga dikenal sebagai tingkat berprinsip, terdiri dari tahap lima dan enam perkembangan moral. Di tahap ini, disadari bahwa individu-individu adalah entitas yang terpisah dari masyarakat. Oleh karena itu, pandangan seseorang harus diutamakan sebelum pandangan masyarakat. Namun, karena adanya keyakinan bahwa "hakikat diri mendahului orang lain", tahap pasca-konvensional seringkali tertukar dengan perilaku pra-konvensional.

  • Pada tahap lima, individu dipandang memiliki pendapat dan nilai yang berbeda-beda, dan sangat penting untuk menghormati dan menghargai pandangan mereka tanpa memihak. Permasalahan yang dianggap sebagai hak individu seperti kehidupan dan pilihan harus diperbolehkan dan tidak boleh dihambat. Faktanya, tidak ada pilihan yang pasti benar atau absolut - "siapa yang memutuskan jika tidak Anda sendiri?" Dalam pandangan ini, hukum dipandang sebagai kontrak sosial dan bukan keputusan yang kaku. Aturan-aturan yang tidak memberikan kesejahteraan sosial harus diubah jika perlu demi kepentingan terbesar bagi sebanyak mungkin orang. Hal ini dicapai melalui keputusan mayoritas dan kompromi. Dalam hal ini, pemerintahan yang demokratis tampak berlandaskan pada pemikiran tahap lima.
  • Pada tahap enam, penalaran moral berdasarkan pada prinsip etika universal secara abstrak. Hukum hanya dianggap valid jika berdasarkan pada keadilan, dan komitmen terhadap keadilan juga termasuk kewajiban untuk tidak mematuhi hukum yang tidak adil. Hak tidak dianggap sebagai kontrak sosial dan tidak penting untuk tindakan moral deontik. Keputusan diambil secara kategoris dalam cara yang absolut dan bukan secara kondisional hipotetis (seperti yang terdapat dalam Imperatif Kategoris dari Immanuel Kant). Cara ini dilakukan dengan membayangkan apa yang akan dilakukan seseorang jika menjadi orang lain, yang juga mempertimbangkan apa yang dilakukan jika berpikir seperti orang lain (seperti yang terdapat dalam Veil of Ignorance dari John Rawls). Tindakan yang diambil adalah hasil dari konsensus. Dalam pandangan ini, tindakan bukanlah cara untuk mencapai sesuatu, tetapi selalu merupakan hasil. Seseorang bertindak karena itu benar, bukan karena ada maksud pribadi, harapan, kelegalan, atau kesepakatan sebelumnya. Meskipun Kohlberg yakin bahwa tahap ini ada, ia mengalami kesulitan untuk menemukan orang yang secara konsisten menggunakannya. Tampaknya orang yang dapat mencapai tahap enam dari model Kohlberg ini sulit ditemukan.

Baca juga: Tata Surya: Pengertian, Teori, dan Anggota Tata Surya

Contoh Dilema Moral

Pada tahun 1958, Kohlberg mengembangkan Wawancara Keputusan Moral dalam disertasinya. Wawancara ini menggunakan dilema moral dalam bentuk cerita pendek yang menggambarkan situasi yang memerlukan keputusan moral. Dalam kurun waktu kurang lebih 45 menit, pewawancara melakukan wawancara semi-terstruktur dengan partisipan dan menanyakan serangkaian pertanyaan sistematis, seperti apa yang dipikirkan partisipan tentang tindakan yang seharusnya dilakukan dan alasan mengapa tindakan tertentu dianggap adil atau salah. Skor diberikan berdasarkan bentuk dan struktur jawaban, dan bukan pada isi jawaban. Dengan menjawab serangkaian dilema moral, partisipan dapat memperoleh skor keseluruhan.

Dilema Heinz

Dalam penelitian awalnya, Kohlberg menggunakan salah satu dilema yang dikenal sebagai "dilema apoteker" yaitu kisah Heinz yang mencuri obat di Eropa. Kisah ini menceritakan tentang seorang perempuan yang hampir meninggal karena kanker. Ada satu obat yang dapat menyelamatkannya menurut dokter, yaitu radium yang baru ditemukan oleh seorang apoteker di kota yang sama. Namun, obat itu sangat mahal dan apoteker menjualnya dengan harga sepuluh kali lipat dari harga produksinya. Heinz, suami dari perempuan yang sakit, meminjam uang dari siapa saja yang dia kenal, tetapi dia hanya bisa memperoleh separuh dari harga obat yang diperlukan. Dia meminta apoteker untuk menjual obat dengan harga yang lebih murah atau membolehkan dia membayar nanti, tapi apoteker menolak dengan alasan ingin mencari keuntungan dari obat tersebut. Akhirnya, Heinz nekat membongkar apotek dan mencuri obat demi menyelamatkan istrinya.

Baca juga: Big Data: Definisi dan Konsep Dasar

Kritik

Salah satu kritik terhadap teori Kohlberg adalah bahwa teori tersebut terlalu fokus pada keadilan dan mengabaikan norma moral lainnya, sehingga tidak mampu secara memadai mengevaluasi orang yang menggunakan prinsip moral lain dalam pengambilan keputusan. Menurut Carol Gilligan, teori Kohlberg terlalu berpusat pada sudut pandang laki-laki atau androsentrik. Awalnya, teori ini dikembangkan berdasarkan penelitian yang melibatkan hanya partisipan laki-laki, sehingga tidak dapat menggambarkan pandangan perempuan secara memadai. Meskipun penelitian umumnya menunjukkan tidak adanya perbedaan signifikan antara pola pikir pria dan wanita dalam hal ini, Gilligan berpendapat bahwa teori perkembangan moral perempuan perlu memperhatikan norma perhatian sebagai alternatif untuk norma keadilan yang menjadi fokus Kohlberg.

Selain itu, psikolog lain juga mempertanyakan asumsi bahwa tindakan moral terutama dicapai melalui penalaran formal. Sebuah kelompok psikolog yang disebut social intuitionists berpendapat bahwa seringkali orang membuat keputusan moral tanpa mempertimbangkan nilai-nilai seperti keadilan, hukum, hak asasi manusia, dan norma etika yang konkret. Oleh karena itu, argumen yang dikemukakan oleh Kohlberg dan psikolog rasionalis lainnya dapat dianggap hanya sebagai justifikasi atau penjelasan dari keputusan moral intuitif. Hal ini menunjukkan bahwa penalaran moral tidak selalu relevan dalam tindakan moral, sebagaimana dijelaskan oleh teori Kohlberg.

Baca juga: Penelitian Kualitatif: Pengertian, Ciri, Tujuan, dan Contoh

Kesimpulan

Dalam ringkasan ini, telah dibahas teori perkembangan moral oleh Lawrence Kohlberg yang mengemukakan bahwa manusia melewati enam tahap perkembangan moral. Teori ini ditemukan berdasarkan hasil penelitian terhadap partisipan yang diwawancarai menggunakan dilema moral. Namun, teori ini juga mendapatkan kritik dari beberapa ahli psikologi seperti Carol Gilligan dan social intuitionists yang menganggap teori Kohlberg terlalu menekankan pada keadilan dan penalaran formal, serta mengabaikan norma moral lainnya seperti perhatian dan intuisi. Selain itu, beberapa penelitian menunjukkan tidak ada perbedaan signifikan antara pola perkembangan moral laki-laki dan perempuan.

Meskipun begitu, teori Kohlberg masih diakui sebagai teori penting dalam psikologi perkembangan moral dan masih digunakan dalam penelitian hingga saat ini. Teori ini memberikan wawasan yang bermanfaat dalam memahami bagaimana manusia memperoleh kesadaran moral, bagaimana norma moral dipertimbangkan dalam pengambilan keputusan, serta bagaimana individu memperoleh kepekaan terhadap nilai-nilai moral dan etika dalam interaksi sosial.

Baca juga: Cara Mengusir Tikus dari Lingkungan Rumah

Referensi

  • Kohlberg, L. (1981). The Philosophy of Moral Development: Moral Stages and the Idea of Justice. HarperCollins Publishers.

  • Rest, J. R. (1986). Moral Development: Advances in Research and Theory. Praeger Publishers.

  • Piaget, J. (1932). The Moral Judgment of the Child. London: Routledge.

  • Gilligan, C. (1982). In a Different Voice: Psychological Theory and Women's Development. Harvard University Press.

  • Kohlberg, L. (1969). Stage and sequence: The cognitive-developmental approach to socialization. In D. A. Goslin (Ed.), Handbook of Socialization Theory and Research (pp. 347-480). Rand McNally.

  • Turiel, E. (1983). The Development of Social Knowledge: Morality and Convention. Cambridge University Press.

  • Hoffman, M. L. (2000). Empathy and Moral Development: Implications for Caring and Justice. Cambridge University Press.

  • Nucci, L. P. (1981). Conceptions of personal issues: A domain distinct from moral or societal concepts. Child Development, 52(1), 114-121.

  • Kohlberg, L. (1958). The Development of Modes of Thinking and Choices in Years 10 to 16 (Doctoral dissertation, University of Chicago).

  • Colby, A., & Kohlberg, L. (1987). The Measurement of Moral Judgment: Vol. 2. Standard Issue Scoring Manual. Cambridge University Press.

  • Baca juga: 

    Integrated Marketing: Pengertian dan Cara Menyusunnya

    Tips Badan Berisi: Rahasia Tubuh Sehat dan Padat

    Cara Mengatasi Insomni untuk Hidup Lebih Sehat

    Cara Mengatasi Hidung Tersumbat

    Cara Menghilangkan Bibir Hitam Beserta Penyebabnya

    Cara Menghilangkan Hitam di Leher

    Cara Menghilangkan Flek Hitam di Wajah

    Cara Melihat Hasil Nilai UTBK 2023

    Cara Merawat Rambut agar Indah dan Sehat

    10 Cara Mendapatkan Uang dari TikTok, Strategi Ampuh

    Peran Ayah dan Ibu dalam Keluarga, Kunci Kesuksesan Anak